DONY AKTANI, ST

Ketika Cinta Bertasbih (kcb)

Posted by: donyaktani on: Juni 15, 2009

10 Juni 2009

Sebuah novel pembangun jiwa karya Habiburrahman El-Shirazy yang bertitle Ketika Cinta Bertasbih diangkat ke layar lebar. Pengambilan gambar benar-benar dilakukan di Mesir tepatnya di Kota Kairo, Sungai Nil, Pyramid, Sphinx, Kota Alexandria, Laut Mediterania, dan Benteng Qait Bay.

kcb

Ketika Cinta Bertasbih (KCB) diawali dengan pemandangan Mesir diambil dari atas. Namun gambarnya kurang indah dan goyang2. Mungkin hanya diambil dari dalam helikopter tanpa menggunakan alat khusus. Kemudian disusul rangkaian tempat2 penting disana. Sayangnya hanya seperti gambar dokumenter dan kembali kurang indah gambarnya (orang bilang kurang fotografis).

KCB6

Kisah berlanjut mengenai perjalanan Khairul Azzam (M. Kholidi Asadi Alam), seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al Azhar Mesir. Dia tidak lulus selama 9 tahun karena lebih mengutamakan mencari uang daripada kuliah. Ayahnya meninggal dunia, sehingga dia harus mengidupi dirinya dan keluarganya di Solo. Azzam berdagang bakso dan tempe yang kenikmatannya terkenal sampai KBRI Mesir. Alhasil mempertemukannya dengan Eliana Pramesti (Alice Norin) putri Pak Alam (Slamet Rahardjo) Dubes RI di Mesir.

Ada yang sedikit lucu saat adegan Azzam bertemu Furqan (Andi Arsyil) di pinggir pantai. Ternyata menggunakan layar biru(atau mungkin hanya mengubah backgroundmua saja) dan efeknya kurang sip sehingga terlihat agak aneh. Dipinggir badan terlihat jelas garisnya. Beberapa adegan makan malam dubes di pantai juga sudah diberi ditambah efek komputer sehingga kurang natural gambarnya.

KCB

Karena gaya kehidupan Eliana tidak cocok dengan Azzam, maka disarankan oleh Pak Ali (Didi Petet), untuk melamar Anna Althafunnisa (Oki Setiana), S2 dari Kuliyyatul Banaat di Alexandria. Azzam meminta bantuan Ustadz Mujab (Habiburrahman El-Shirazy) untuk melamarnya. Tapi sayangnya ternyata Anna sudah dilamar oleh Furqon. Saat Pak Ali berjalan bersama Azzam, coba Anda lihat turis yang berfoto dengan gaya aneh2 di depan benteng, cukup lucu dan kreatif adegan ini.

KCB2

Furqon akan menyelesaikan ujian akhirnya, untuk belajar dia memilih menginap dihotel, namun dia dijebak gerombolan pemeras dan ditulari AIDS. Jika Anda perhatikan saat Furqon menelpon, telepon hotel dibawa sampai keluar pintu balkon kamar hotel, apa bisa nyampai ya dan kelihatannya kok tidak ada kabelnya :D

KCB3

Selain itu dikisahkan pula mengenai teman-teman kontrakan Azzam. Beragam cerita cinta yang menggelitik dan membuat haru. Paling sedih adalah saat Fadhil menyanyikan sebuah lagu di pernikahan Tiara yang dicintainya.

KCB4

Berlanjut dengan kisah keluarga Azzam di Solo, terutama adiknya yang bernama Ayatul Husna (Meyda Sefira). Dimana secara kebetulan bertemu dengan Anna yang pulang ke Indonesia. Anna akhirnya menerima lamaran Furqon dengan syarat Anna tidak mau dipoligami. Dan diakhir kisah Azzam-pun pulang ke Indonesia berbarengan dengan Eliana.

KCB5

KCB dibuat oleh Sinemart Picture dengan sutradra Chaerul Umam dan penulis naskah Imam Tantowi (Kalau ini saya tahu sebagai sutradara film Saur Sepuh – Brama kumbara jaman saya masih SD :D ). Sebagian besar pemain utama diambil dari audisi di 9 kota di Indonesia. Sehingga wajah baru akan mewarnai KCB. Namun kualitas akting mereka tidak mengecewakan serta tidak terlihat sebagai pendatang baru terutama pemeran Azzam dan Anna.

Ada juga sederetan pemain senior yang ikut dalam film ini antara lain Didi Petet, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Minati Atmanegara, El Manik dan penampilan bintang tamu Din Syamsudin yang akan tampil di awal film.

Masalah musik ilustrasi dan theme song dipercayakan kepada Anto Hoed dan Melly Goeslaw dengan melibatkan Krisdayanti, Ayushita dan Amee. Sehingga model musiknya dipastikan bergaya Melly. Musik scoringnya sering diulang2. Kenapa tidak scoring dengan orkestra saja ya, lebih mewah suasananya.

Editing KCB saya rasa agak kasar, pemotongannya tidak halus serta kadang musik berhenti mendadak. Ada adegan yang pengambilan gambar terlalu cepat. Misalnya saja gambar penonton diambil secara cepat dari kiri ke kanan, jadi agak tidak enak ditonton. Selain itu film ini juga sarat dengan iklan misalnya saja motor Yamaha Mio, ada poster Vivanews dan yang paling sering adalah bank Mandiri. Bahkan ada adegan yang mengatakan tentang mobile banking :lol:

kcb

Ketika Cinta Bertasbih akan mulai tayang hari Kamis, 11 Juni 2009 serta diputar di 7 negara (Brunei, Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Mesir, dan Australia). Pemutaran perdana tadi pagi (11/06) di Yogyakarta mendapat sambutan cukup bagus. Di Studio 21 Ambarukmo Plaza terlihat antrian mengular sampai luar bioskop (gambar kiri). Sedangkan antrian di dalam bioskop Studio 21 juga padat (gambar kanan).

Ada sedikit yang menggelitik di websitenya dan posternya yaitu tulisan berbentuk cap “Dijamin Mesir asli”. Agak lucu juga kalau dilihat, terkesan malah kurang serius.

Terlepas dari kekurangan penggarapannya, KCB termasuk yang patut ditonton karena mempunyai isi cerita yang bagus, menghibur dan mendidik dibandingkan dengan film lain yang bertema pocong bugil ataupun komedi yang tidak lucu. Kalau menurut saya KCB mendapat 3 dari 5 bintang.

Film ini akan terbagi menjadi 2 bagian sehingga kisah belum akan berakhir dalam 120 menit pemutaran alias dibagian akhir ada tulisan To Be Continued. Kemudian disambung dengan potongan-potongan kisah KCB 2 (mirip2 kayak sinetron). Adegan inilah yang membuat penonton pada saat tadi saya menonton berteriak huuuuu….

Selamat Menonton

GANYANG MALAYSIA ……

Posted by: donyaktani on: Juni 15, 2009

Malaysia Akan Kuasai Indonesia…?
Juni 14, 2009
Akankah Malaysia Kuasai Ekonomi Indonesia?

Akankah Malaysia Kuasai Ekonomi Indonesia?

Dalam beberapa tahun belakangan ini, Malaysia terlihat agresif menggarap potensi bisnis di Indonesia, mulai perkebunan, pertambangan, telekomunikasi, perbankan, asuransi, pendidikan, hingga sektor kesehatan. Mereka pun sukses mendulang keuntungan. Sebaliknya, Indonesia terkesan hanya mampu menggaet ringgit dari tenaga kerja informal di negeri jiran itu.
Selama 2007-2009, data Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan, realisasi investasi Malaysia di Indonesia sekitar US$ 1 miliar. Dari sisi neraca perdagangan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, defisit neraca perdagangan Indonesia-Malaysia membengkak. Tahun lalu, nilai impor Indonesia dari Malaysia mencapai US$ 8,9 miliar, sedangkan nilai ekspornya hanya US$ 6,4 miliar. Sebaliknya, Indonesia ‘sukses’ mendulang devisa dari sekitar dua juta tenaga kerja Indonesia (TKI) yang merantau ke negeri jiran itu.

Di Indonesia, para pemodal Malaysia telah merasuki aneka sektor bisnis. Di sektor perkebunan, para pemodal Malaysia telah menguasai sekitar 2,1 juta hektare dari 5,2 juta ha lahan kelapa sawit. Hal ini memperkuat sinyalemen 50 perusahaan Malaysia telah mengontrol 50% lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

“Keberhasilan perusahaan sawit patungan di Indonesia tergantung kesanggupan kita menjaga keamanan mitra Indonesia,” ujar Boon Weng Siew, president
Malaysian Estate Owners Association, seperti dikutip StarBiz, beberapa waktu lalu.

Namun, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) tidak yakin kalau pengusaha sawit Malaysia sudah menguasai 50% lahan sawit di Indonesia.

Berdasarkan data Gapki, 40% luas perkebunan kelapa sawit saat ini milik rakyat dan badan usaha milik negara (BUMN), yaitu masing-masing 2,1 juta hektare (ha) untuk rakyat dan 800 ribu ha milik BUMN. Sebagian besar adalah milik perusahaan swasta Indonesia. “Secara langsung, pengusaha Malaysia mungkin hanya memiliki luas lahan sawit di Indonesia sekitar 400-500 ribu ha,” jelas Susanto, ketua bidang pemasaran Gapki.

Meski Malaysia begitu ekspansif ke Indonesia, menurut Susanto, pemerintah tidak bisa membatasi investasi di perkebunan kelapa sawit oleh pengusaha asal Malaysia. Pasar bebas tidak mengenal pembatasan investasi asing. “Namun, pemerintah bisa menetapkan aturan untuk menyeleksi investasi asing. Hal itu untuk memberikan dukungan kepada pengusaha lokal supaya lebih eksis di perkebunan kelapa sawit,” jelas dia.

Sebelum memberikan izin baru, pemerintah perlu mewajibkan setiap pengusaha lebih dahulu membangun plasma sebesar 20%. “Tujuannya, supaya investasi yang datang dari investor asing itu benar-benar bisa diserap langsung oleh masyarakat,” jelas Susanto.

Dirjen Perkebunan Deptan Ahmad Mangga Barani mengakui, perusahaan Malaysia makin gencar mengakuisisi perkebunan kecil di Indonesia. Namun, pemerintah pusat sulit memantau aksi akuisisi itu karena izinnya lewat pemerintah daerah.

Di sektor perbankan, negeri jiran itu juga telah memantapkan posisinya melalui sejumlah bank, seperti CIMB Niaga dan Bank Internasional Indonesia (BII). CIMN Niaga adalah perusahaan keuangan yang sahamnya di perdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per 31 Maret 2009, kapitalisasi pasar CIMB Niaga tercatat sebesar R p11,25 triliun. CIMB Niaga merupakan bank keenam terbesar di Indonesia dari segi asset (Rp 102,9 triliun).

Di sektor telekomunikasi, mereka mengepakkan sayapnya melalui PT Excelcomindo Pratama. Tahun ini, operator seluler itu berharap bisa menambah empat juta pelanggan baru menjadi 30 juta dari akhir 2008 sebanyak 26 juta. Meski rugi bersih Rp 306 miliar, pada kuartal I 2009, pendapatan XL naik dari Rp 2,65 triliun menjadi Rp 2,926 triliun. “Jika saja kurs rupiah stabil di bawah Rp 10.500, setidaknya XL bisa membukukan keuntungan bersih Rp 400 miliar,” jelas Hasnul Suhaimi, presiden direktur Excelcomindo.

Jaring Pasien dan Pelajar

Selain berinvestasi langsung, para pebisnis negeri jiran itu terlihat agresif menarik minat orang kaya Indonesia melalui program pariwisata, kesehatan, dan pendidikan. Sebelumnya, negeri jiran itu ‘mengintip’ keberhasilan Singapura menjaring pasien-pasien potensial Indonesia. Mereka pun berlomba-lomba mengemas pelayanan di rumah sakit dengan cara menarik. Salah satunya dengan menerapkan konsep wisata kesehatan (medical tourism).

Data Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) menunjukkan, pasien asal Indonesia mendominasi rumah sakit di Malaysia. Sekitar 70% pasien Indonesia berasal dari Sumatra, sedangkan sisanya dari Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Bahkan, RS Lam Wah Ee Malaysia mampu menjaring 12.000 orang Indonesia per tahun atau sekitar 32 pasien per hari. Jumlah pasien Indonesia di RS Adventist mencapai 14.000 per tahun atau sekitar 38 pasien per hari.

Dari sisi tenaga kerja, Malaysia berhasil ‘menjaring’ 2 juta tenaga kerja Indonesia (TKI), 800 ribu di antaranya bekerja secara ilegal. Bukan hanya pekerja informal, negeri itu juga mampu menggaet tenaga kerja ahli, seperti di sektor minyak dan gas, dari Indonesia.

Yang pasti, tenaga nonformal dari Indonesia turut membangun negeri jiran itu seperti konstruksi, perkebunan, dan sektor rumah tangga. Selain itu, tenaga profesional perminyakan Indonesia banyak tersebar di Petronas dan Shell. Tenaga professional teknologi infomasi tersebar di berbagai perusahaan seperti IBM, Axon Global, Shell Down Stream & Upstream IT, Deloitte, dan Morse.

Di bidang pendidikan, Malaysia juga sukses menarik 10.000 pelajar Indonesia. Mereka umumnya meminati bidang bisnis, teknologi informasi, desain grafis, teknik, dan komunikasi. Pada 2010, Departemen Pendidikan Malaysia menargetkan bisa menggaet 100 ribu pelajar Indonesia. Sebaliknya, jumlah pelajar Malaysia di Indonesia hanya sekitar 4.000.

“Pendidikan di Indonesia sebenarnya cukup bagus, namun Malaysia memang lebih unggul,” ujar Rizky Wisnoentoro yang kini mengikuti program doktoral di Universiti Sains Malaysia (USN), kepada Investor Daily, Jumat (12/6).

Salah satu kelebihan perguruan tinggi di Malaysia adalah mereka memiliki tenaga ahli yang diakui internasional. Malaysia mengadopsi secara utuh metode pendidikan Inggris. Rizky sengaja memilih USN karena ingin memperdalam ilmu tentang corporate social responsibility (CSR). “Saya memilih USN karena terdapat ahli CSR yakni DR Reevany Bustami,” jelas dia.

Di sektor pariwisata, Malaysia terus berupaya menggaet pelancong, termasuk dari Indonesia. Tahun lalu, Pemerintah Malaysia mengeluarkan US$ 2,82 juta untuk berpromosi dan iklan. Hasilnya, negeri itu mampu mendulang US$ 3,44 miliar dari pelancong yang berwisata belanja. Pada 2008, warga Indonesia yang melancong ke Malaysia tercatat 2,43 juta orang. Selama Januari-Maret 2009, negeri itu sudah kebanjiran 533.843 pelancong Indonesia.

Tingkatkan SDM

Dari segi luas wilayah, potensi sumber daya alam (SDA), dan populasi penduduk, Indonesia seharusnya unggul dibanding Malaysia. Faktanya, Indonesia tertinggal dalam banyak hal. “Rahasianya hanya satu, Malaysia unggul dari sisi sumber daya manusia,” kata Revrisond Baswir, ekonom dari Universitas Gajah Mada.
Dengan penduduk sekitar 28 juta jiwa, Pemerintah Malaysia sangat memperhatikan SDM-nya. Hal itu tercermin pada anggaran untuk sektor pendidikan. “Indonesia baru saat ini menetapkan anggaran pendidikan 20% dari APBN. Itu pun masih memuat komponen gaji,” jelas Revrisond.

Sebaliknya, sektor pendidikan di Malaysia mendapatkan 30% dari APBN. Sejak 2008, negeri jiran itu telah membebaskan biaya pendidikan hingga sekolah menengah atas (SMA). “Secara individu, banyak anak Indonesia yang berprestasi internasional. Namun, secara makro, kita tertinggal,” kata Rizky.

Selain pengembangan SDA dan SDM, menurut Rizky, Indonesia juga perlu lebih mengembangkan khazanah budaya. “Indonesia harus menjadi rujukan studi budaya di dunia,” tegas Rizky.

Revrisond mengingatkan, faktor kepemimpinan juga menjadi kunci sukses Malaysia. Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad berperan besar dalam kebangkitan negeri itu. Keberpihakan Mahatir kepada pengusaha lokal melalui program New Economic Policy mampu mendongkrak ekonomi Malaysia. “Mahatir belajar dari Indonesia. Dulu dia dikenal dengan sebutan Soekarno kecil,” ujar dia.

Foto Penyiksaan Manohara

Posted by: donyaktani on: Juni 13, 2009

Ini adalah kumpulan Foto bukti kekerasan yang dilakukan terhadap Model Cantik Manohara.

Menurut Roy Suryo, pakar telematika, foto-foto tersebut — sundutan, sayatan, dan luka lebam — benar diambil dari handphone Blackberry milik Manohara, di sekitar bulan Maret hingga April 2009. Hal ini sejalan dengan bukti hasil visum, meskipun tinggal 11 titik luka yang bisa di buktikan, baik goresan, suntikan, sayatan, ataupun sundutan.

Bukti penyimksaan Manohara di bagian dada

Bukti penyiksaan (sayatan) Manohara di bagian dada
Bukti Sundutan Rokok di Bagian Kening

Bukti Sundutan Rokok di Bagian Kening
Bukti Penyiksaan Manohara di Bagian Dada

Bukti Penyiksaan Manohara di Bagian Dada

Bukti Penyiksaaan di Bagian Tangan

Bukti Penyiksaaan di Bagian Tangan

Manohara: Yang Silet-silet Itu Benar

Posted by: donyaktani on: Juni 13, 2009

Jakarta – Manohara Odelia Pinot membenarkan suaminya, Pangeran Kesultanan Kelantan, Malaysia, Tengku Muhammad Fakhry, melakukan tindakan sangat keji kepada dirinya. Tubuh Mano disilet-silet.

“Ya setiap hari. Yang silet-silet, kekerasan seksual, kekerasan lainya. Semua itu benar,” kata Manohara di Markas Laskar Merah Putih, Jalan Biak, Petojo, Jakarta Pusat, Minggu (31/5/2009).

Mano masih mengalami trauma akibat kekerasan tersebut. Ia pun enggan membeberkan secara lebih detail kekejaman sang suami. “Semua itu masih sangat berdampak pada saya,” curhat Mano.

Manohara: Fakhry Agak Psikopat

Posted by: donyaktani on: Juni 13, 2009

Jakarta – Kekerasan yang dilakukan Pangeran Kesultanan Kelantan kepada model cantik Manohara Odelia Pinot cukup membuat model cantik ini berpikir Tengku M Fakhry mempunyai kelainan jiwa.

“Menurut saya, dia agak psiko (psikopat),” ujar Mano setelah melakukan jumpa pers di Markas Merah Putih, Jalan Biak, Petojo, Jakarta Pusat, Minggu (31/05/09).

Mano menceritakan ia sering menjadi mainan bagi Fakhry. “Kalau dia lagi stubborn, saya seperti properti bagi dia, saya seperti bukan manusia,” kata Mano sedih.

Sebelumnya, Mano juga mengaku segala macam kekerasan sering ia terima tatkala berada di Kelantan. Mulai dari kekerasan pada tubuhnya hingga kekerasan seksual.

“Kalau orang biasa, pasti tidak akan melakukannya kan?” kritik Mano pada suaminya.

PRITA HANYA MENYAMPAIKAN ISI HATINYA.

Posted by: donyaktani on: Juni 13, 2009

Prita Mulyasari cuma seorang konsumen biasa. Suatu hari, ia merasa kedaulatannya dicederai saat menjadi pasien di RS Omni Internasional, Serpong, Tangerang, Banten. Maka, pada akhir Agustus 2008, ia menulis surat elektronik ke sejumlah teman. Intinya, ia mengabarkan, kondisi yang tak kunjung membaik membuatnya memutuskan untuk beralih ke rumah sakit lain. Untuk itu, ia meminta rekam medis miliknya sendiri. Masalahnya, Omni tak bersedia mengeluarkan.

Surat yang sejatinya lumrah dikirim konsumen yang tidak puas. Tak dinyana, surat itu, menyebar luas. Termasuk, menjadi surat pembaca di media massa. Manajemen Omni tak terima. Namun, alih-alih menyusun data dan keterangan tandingan, pihak Omni berkeputusan untuk menyeret kasus ini ke ranah hukum.

Tak tanggung-tanggung, Prita dikejar di dua lini: perdata dan pidana. Dalam gugatan perdata di Pengadilan Negeri Tangerang, Prita kalah. Prita dihukum membayar kerugian material sebesar Rp 161 juta sebagai pengganti uang klarifikasi di koran nasional dan Rp 100 juta untuk kerugian immaterial.

Akan halnya perkara pidana, nasib ibu dua anak itu jauh lebih tragis. Sejak 13 Mei 2009, sebagai tersangka, Prita ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Tangerang. Pihak kejaksaan menyasar Prita dengan Pasal 27 UU Informasi dan Transaksi Elektronik tentang pencemaran nama baik. Sidang perdana digelar, Kamis (4/6) lalu.

Menurut pihak Omni, melalui kuasa hukumnya Risma Situmorang, sejak awal hingga sekarang, pihak rumah sakit membuka pintu maaf kepada Prita dan berharap agar permasalahan ini tak sampai diselesaikan melalui jalur hukum. “Kami cuma ingin Prita mengakui apa yang ditulisnya tidak benar,” katanya.

Namun, kata Risma, pihak Prita tidak mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. “Karena itu, kami dan para dokter terpaksa menempuh jalur hukum untuk membuktikan tuduhan tersebut tidak benar,” ujarnya. .

Kasus ini menghebohkan, menjadi buah bibir sejak istana hingga warung kopi. Tak pelak, pemantik utama adalah penyikapan Omni terhadap keluhan itu. Nasib Prita berbeda bak langit dan bumi dengan Jeff Jarvis. Suatu hari, penulis buku What Would Google Do? Ini membeli laptop Dell. Ternyata laptop ini bermasalah. Tapi, usai dibawa ke pihak Dell, Laptop itu tak kunjung bugar. Dalam keadaan frustasi, Jarvis memuat tulisan di blognya pada Juni 2005, dengan judul “DELL SUCKS”.

Keluhan ini disambut meriah kalangan blogger. Ratusan komentar bermunculan. Tulisan itu juga disebarkan ke blog-blog lain. Dengan cepat reputasi Dell merosot, apalagi ketika media mainstream ikut juga memberitakan. Bahkan, nilai saham Dell di bursa ikut-ikutan anjlok.

Dell tak punya pilihan. Beberapa bulan kemudian, produsen itu mulai berubah pikiran. Pada April 2006, produsen itu menurunkan staf technical support-nya untuk berkomunikasi dengan kalangan blogger. Pada Juli 2006, Dell bahkan membangun blog sendiri, ajang keluh-kesah ataupun pujian bagi produk mereka. Mereka menanggapi setiap posting atau komentar dengan pendekatan yang positif, mau mendengarkan. Dell menjadikan para pelanggan sebagai sahabat yang bisa mengkritik kapan saja. Nama baik perusahaan tersebut akhirnya pulih seperti sediakala.

Dunia memang sudah berubah. Dengan cara-cara baru, para konsumen menyusun posisi diri yang baru. Ini semua dipicu revolusi di bidang teknologi informasi. Kontrol informasi sudah mulai bergeser ke tangan publik secara langsung, bukan lagi di genggaman media massa konvensional. Para konsumen menyebarkan informasi melalui blog, milis, situs jejaring sosial, maupun forum di jagat maya. Dulu, konsumen harus menunggu berminggu-minggu, sebelum protesnya dimuat dirubrik surat pembaca. Kini, hanya dalam hitungan menit, protes (atau boleh jadi pujian) itu bisa menyebar tanpa batas, ke seluruh pelosok dunia. Para pakar pemasaran menamakannya consumer generated media (CGM).

Menurut Amalia Maulana, seorang konsultan merek, CGM adalah fenomena baru yang harus disikapi dengan bijak oleh perusahaan dan pengelola merek. Sebelum kecenderungan ini menguat, umumnya semua berita – baik dan buruk – dikendalikan jurnalis di media formal. Karena itu, fungsi manajer humas di perusahaan dianggap sangat sentral dalam membina hubungan baik dengan jurnalis.

Kini, aliran berita yang lebih dahsyat bukan berada lagi di tangan para jurnalis media formal, melainkan di tangan konsumen. “Kelebihan utama CGM adalah dari sisi kredibilitasnya yang tinggi di mata audiens; berbeda dari tulisan di media formal yang sering dipersepsikan berpihak pada kepentingan tertentu,” tulisnya di sebuah majalah bisnis.

Dari sisi hukum, konsumen seperti Prita juga punya tameng tebal. Adalah terang-benderang bahwa keluhan Prita tersebut merupakan hak konsumen yang dijamin oleh UU Perlindungan Konsumen. Selain itu, berdasarkan UU Praktek Kedokteran dan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Rekam Medis, pasien berhak untuk meminta rekam medis.

Pakar Online Public Relation Nukman Luthfie menyatakan, pendekatan terbaik saat ini adalah pendekatan komunikasi. Jika bersikukuh dengan pendekatan hukum saja dan kuasa hukum menjadi juru bicara seperti selama ini, perlawanan publik akan semakin kuat. “Ujung-ujungnya, citra perusahaan semakin ambruk, yang berpotensi memperburuk kinerja perusahaan, termasuk menurunnya jumlah pasien dan income perusahaan,” tulis Nukman di situs pribadinya.

Perlawanan publik memang luar biasa. Halaman khusus di situs jejaring Facebook yang mendesak pembebasan Prita dari jeratan hukum telah didukung lebih dari 180 ribu orang. Padahal, umur halaman itu belum lagi sepekan.

Nasi sudah menjadi bubur. Agak terlambat buat Omni untuk balik badan. Tapi, bukan tak ada kans sama sekali. Buat kalangan produsen, ini adalah pelajaran yang sangat berharga soal memosisikan para konsumen secara setara. Bagi kaum konsumen, inilah momentum yang kian menyadarkan diri: mereka punya kedaulatan.

Menghilang, Keluarga Tersangka Mutilasi Ryan

Posted by: donyaktani on: Juli 27, 2008

Jombang (ANTARA News) – Keluarga tersangka mutilasi, Verry Idham Henryansah alias Ryan (34) di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur menghilang.

Rumah kedua orangtua Ryan, Ahmad dan Sriatun, di Desa Jatiwates, Selasa tampak tertutup rapat dan tidak terlihat adanya aktivitas apapun di rumah sederhana itu.

Namun demikian, puluhan warga masih terlihat berkerumun di sekitar rumah tempat ditemukannya empat mayat dalam dua liang berbeda dalam penggalian yang dilakukan petugas dari Polda Metro Jaya dan Polda Jatim itu.

“Sejak Ryan ditangkap, saya sudah tidak melihat lagi Ahmad dan Sriatun,” kata Sri Astuti, tetangga Ahmad dan Sriatun di Desa Jatiwates.

Demikian pula dengan keberadaan Ryan selama ini, dia mengaku tidak pernah tahu. “Sejak dia berada di Jakarta, jarang sekali pulang,” katanya.

Namun demikian, dia pernah melihat Ryan pulang ke kampung halamannya itu pada malam hari dengan beberapa orang temannya dari Jakarta.

Sejak ditemukan empat mayat di belakang rumah keluarga Ryan di Desa Jatiwates, para tetangga merasa takut melintas di depan rumah itu pada malam hari.

“Siapa yang tidak takut, apalagi sampai sekarang lubang itu masih dibiarkan terbuka. Warga belum berani menutupnya karena masih ada garis polisi,” katanya.

Menurut Khoirul, tetangga lainnya, tempat penguburan empat jasad yang sampai sekarang belum dikenali itu adalah bekas kolam ikan. “Dulunya kolam ikan, tapi nggak tahu sejak kapan kolam ini sudah tidak digunakan lagi,” katanya.

Ia menuturkan, sejak masih duduk di bangku Kelas II SD Negeri 2 Jatiwates, perilaku Ryan tidak seperti kebanyakan teman-teman pria lainnya.

“Dia senang berteman dengan anak-anak perempuan. Jarang bergaul dengan anak laki-laki, waktu kecil dulu,” katanya.

Hal itu dibenarkan salah seorang guru Ryan di SD Negeri 2 Jatiwates, Umi Chabibah. “Dia tidak nakal seperti kebanyakan anak lelaki lainnya,” katanya.

Oleh sebab itu, dia tak menyangka jika salah satu muridnya itu kini menjadi pelaku pembunuhan yang dilakukan secara keji. Ryan ditangkap setelah polisi menemukan mayat Heri Santoso yang terpotong menjadi tujuh bagian di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan pada 12 Juli 2008 lalu.(*)

Jakarta, Persentase kelulusan Ujian Nasional (Unas) di tahun 2008 dipastikan menurun. Setelah kelulusan UN SMA dan sederajat pada 2008 turun sebanyak dua persen, kelulusan Unas SMP/sederajat pada tahun ini ternyata mengalami penurunan satu persen.

Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Suyanto menyatakan, ketidaklulusan siswa SMP pada tahun ini mencapai tujuh persen, lebih tinggi dari tahun 2007 yang hanya 6,6 persen.

”Kurang lebih turun satu persen,” kata Suyanto saat dihubungi wartawan koran ini kemarin (21/6). Kemarin merupakan pengumuman secara nasional hasil kelulusan UN tingkat SMP. Berdasarkan laporan yang dirilis Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Depdiknas, persentase kelulusan SMP/Madrasah Tsanawiyah dan sederajat pada tahun 2008 adalah sebesar 92,75 persen. Angka ini turun dari tahun 2007 yang mencatat kelulusan 93,34 persen.

Suyanto mengatakan, meski persentase kelulusan turun, nilai rata-rata siswa SMP tahun ini dinyatakan naik. Tanpa menyebut angka secara rinci, dia menyebut ada penambahan nilai rata-rata meskipun tidak signifikan. ”Angkanya di sekitar tujuh sekian. Namun, selisih komanya tidak sampai satu digit,” ujar dia.

Berdasar laporan dari dinas, beberapa daerah mencatat persentase kelulusan UN hampir mencapai 100 persen. Daerah semacam Bali, DKI, Jawa Barat, Banten, dan DIY mencatat angka kelulusan hampir sempurna.

Untuk kelulusan SMP/sederajat, persentase siswa dengan kelulusan tertinggi yaitu Bali, siswa yang tidak lulus hanya sekitar 1 persen saja. Adapun Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi provinsi dengan angka ketidaklulusan tertinggi. Sekitar 20 hingga 40 persen siswa SMP di provinsi itu dinyatakan tidak memenuhi standar nilai sebesar 5,25 yang berlaku pada tahun ini. ”Di NTT jelek, ini sangat disayangkan,” terang dia.

Meski begitu, Suyanto menegaskan, Depdiknas akan tetap berusaha agar standar nilai pada UN 2009 tetap naik. Kenaikan tersebut akan dilakukan bertahap, hingga nantinya standar nilai secara nasional pada akhirnya mencapai angka 6. ”Itu target Renstra (Rencana Strategis) Depdiknas,” ujar dia.

Jika sudah mencapai target nasional, Depdiknas nantinya akan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menentukan standar nilai masing-masing. ”Tentunya di atas 6,” kata Suyanto. Standar di atas nasional itu, bisa jadi tercapai bagi daerah-daerah yang telah mencapai kualitas pendidikan yang sudah memadai. ”Bisa saja di daerah standarnya jadi 6,5,” pungkas dia.

Turun Dua Persen

Dari data Dinas Pendidikan Sumbar, tahun ini UN SMP juga mengalami penurunan tingkat kelulusan. Dibanding tahun lalu, penurunan mencapai dua persen. Secara umum, dari 72.620 peserta yang ikut UN tingkat SMP/MTs, siswa yang tidak lulus berjumlah 5.944 orang, atau sekitar 8,19 persen. Yang lulus adalah 66.676, atau sekitar 91, 81 persen. Apabila dibagi per jenis sekolah, untuk SMP saja dari 55.026 peserta yang tidak lulus berjumlah 4.458 orang, atau sekitar 8,10 persen. Sedangkan yang lulus bejumlah 50568, sekitar 91,9 persen.

Persentase kelulusan Ujian Nasional (UN) 2008 tingkat SMP Kota Padang mencapai 89,98 persen, sementara MTs tingkat kelulusan siswa mencapai 99, 67 persen. Apabila digabungkan keduanya, persentase kelulusan UN tingkat SMP/MTs, mencapai 91,14 persen. “Pada tingkat MTs, kita menduduki posisi pertama, untuk perolehan nilai UN di Sumbar. Sedangkan untuk SMP, kita pada posisi enam,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Bambang Sutrisnio.

Saat ini, lanjut Bambang, jumlah peserta UN tingkat SMP di Kota Padang memang paling banyak diantara daerah lainnya, yakni 12.644 peserta. Tetapi dengan beban sebanyak itu, hasil yang diperoleh sudah berhasil melampaui persentase kelulusan UN dari yang ditargetkan.

“Sekarang kita meminta, untuk para siswa SMP/MTs yang telah lulus agar, meneruskan pendidikannya ke SMA, MA, SMK, atau sekolah lainnya yang sederajat. Jangan sampai berhenti di sini. Kalau terkendala akan dana, siswa bisa melapor ke dinas pendidikan Kota Padang. Kita akan mencarikan solusinya,” ulas Bambang.

Sementara dari Pantauan Padang Ekspres kemarin, pengumuman kelulusan UN tingkat SMP di Kota Padang penuh warna-warni semprotan cat pilox. Tak hanya baju yang disemprot, jilbab untuk menutupi aurat kepala siswi pun berubah warna. Namun demikian sebagian siswa ada yang tidak merubah warna baju. Itu bukan berarti tidak lulus, tapi dilarang sekolah. Sebab, baju itu nantinya akan disumbangkan pada anak tak mampu.

Di SMP 12 Padang, siswa tampak bejibun menyemprotkan bajunya. Semula para siswa yang tidak begitu antusias terhadap pengumuman kelulusan UN tersebut. Akan tetapi setelah para gurunya mengumumkan jumlah siswa yang lulus UN, keceriaan tampak di wajah siswa. Kendati sekolah mewanti-wanti pelarangan pengecatan baju.

Pemandangan yang sama juga terlihat di SMP Pertiwi 2 Padang. Rani (14), salah seorang siswa SMP Pertiwi 2 Padang yang lulus mengatakan keceriaan itu hanya sekali seumur hidup. “Kita mengecat baju tidak terlalu parah. Baju yang dicat pun, baju lama. Jadi tidak begitu rugilah menyemprotnya,” katanya.

Berbeda halnya dengan Tifani (14), salah seorang siswa SMP 1 Padang yang ditemui Padang Ekspres mengatakan tidak mengecat bajunya. Sebab, pengecatan baju itu dilarang sekolah. “Larangan itu hanya diikuti oleh siswa yang menyadari saja. Sebagian teman saya tetap melancarkan niatnya merubah warna baju. Mungkin mereka tidak menggunakan pakain putih biru itu lagi,” tutupnya

48 SPBU Di Sumbagut Kantongi Sertifikat PASTI PAS

Posted by: donyaktani on: Juni 22, 2008

Medan ( Berita ) : Pertamina Pemasaran BBM Retail Region I optimistis berhasil mencapai target perolehan Sertifikat “PASTI PAS” sebanyak 112 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) setelah hingga Juni sudah terealisasi 48 SPBU.

“Dengan semakin banyaknya SPBU yang mengantongi PASTI PAS, maka diharapkan konsumen semakin mendapatkan layanan terbaik dan Pertamina sendiri semakin kuat untuk bersaing di pasar bebas dewasa ini,” kata General Manager Pertamina Pemasaran BBM Retail Region I, Basuki Trikora Putra di Medan, Jumat [20/06] .

Dia berbicara usai menyerahkan Sertifikat PASTI PAS kepada tiga SPBU di Sumut sekaligus acara syukuran Pertamina secara nasional menyusul sudah lebih 500 SPBU yang mengantongi sertifikat itu di Indonesia yang digelar di SPBU Singapore Station Jalan Brigjen Katamso Medan yang juga merupakan salah satu SPBU yang mendapat sertifikat itu.

Basuki yang baru dua hari bertugas di Region I menggantikan Edwin Bakti, menjelaskan, dari 48 SPBU itu, di Sumatera Utara sudah 17 SPBU yang meraih PASTI PAS dari yang ditargetkan sebanyak 55 SPBU.

SPBU yang berhasil mendapatkan sertifikat PASTI PAS dari auditor independen Bureau Veritas menunjukkan bahwa SPBU itu sudah memberikan layanan terbaik kepada konsumen seperti yang dipersyaratkan Pertamina dengan standar pelayanan Pertamina Way.

Jumlah SPBU di Region I yang meliputi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumut, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau mencapai 557 unit. “Manajemen berharap semua SPBU itu bisa menjalankan program Pertamina Way itu paling lama pada 2010, ” katanya yang didampingi Sales Manager Pertamina Region I, Tengku Fernanda.

Pertamina semakin optimis bisa mencapai target itu, karena selain mengaku memiliki tim handal untuk fokus pada implementasi Pertamina Way itu, pengelola SPBU juga disebutkan antusias mendapatkan sertifikat itu. Dewasa ini, kata dia, persaingan di SPBU, bukan saja dengan SPBU kompetitor, tapi juga antar SPBU Pertamina. “Yang memberikan pelayanan tidak baik, pasti akan ditinggalkan konsumen,” katanya.

Dia mengaku, sejauh ini Pertamina tidak memberikan sanksi kepada SPBU yang masih tidak membenahi SPBU maupun merubah layanannya kearah standar internasional.Tapi, katanya, sanksi itu akan datang dari pasar alias konsumen yang pasti meninggalkan atau tidak membeli BBM di SPBU-nya yang pada akhirnya merugikan pengusaha SPBU itu sendiri.

Auditor sendiri masih tetap melakukan audit kepada SPBU yang sudah mengantongi sertifikat PASTI PAS agar layanan kepada konsumen tetap terjaga atau konsisten. “Audit yang terus berlangsung itu menunjukkan.bahwa sertifikat itu bukan dengan mudah bisa diperoleh,” katanya

Secara nasional, tahun ini PASTI PAS ditargetkan bisa mencapai 1.000 SPBU dari sekitar 4.000 an SPBU yang ada. Pengusaha SPBU Singapore Station, Hun Jaya, menyebutkan, manajemennya memang antusias mendapatkan PASTI PAS untuk bisa bersaing dengan SPBU yang sudah sebelumnya beroperasi dan termasuk dengan Petronas yang malah beroperasi tidak jauh dari lokasi SPBU yang dimilikinya.

Manajemen juga berupaya mendapatkan untung di luar layanan penjualan BBM-nya dengan membangun fasilitas umum lainnya mulai dari service mobil, anjungan tunai mandiri dan restoran, dan mini market. ( ant )

Bengkulu Miliki Potensi Jutaan Ton Pasir Besi

Posted by: donyaktani on: Juni 22, 2008

Bengkulu ( Berita ) : Provinsi Bengkulu memiliki potensi pasir besi dan batu besi jutaan ton, namun hingga kini belum ada investor yang memanfaatkan bahan baku besi dan baja itu.

“Hasil pendataan 2007 di Kabupaten Bengkulu Utara terdapat kandungan pasir besi dan batu besi jutaan ton, belum termasuk di Kabupaten Seluma yang tahun ini baru akan diteliti,” kata Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu, Surya Gani, di Bengkulu, Jumat [20/06] .

Untuk potensi pasir besi dan batu besi di Bengkulu utara, saat ini sudah ada investor yang sedang melakukan penelitian (eksplorasi) lebih lanjut yakni PT Kompaktor. “Kita harapkan, investor itu langsung melakukan eksploitasi. Jika melihat potensi yang ada, saya yakin perusahaan itu akan melanjutkan kegiatannya dari eksplorasi ke eksploitasi,” ujarnya.

Mengenai potensi pasir besi di Seluma, menurut dia, jauh lebih besar dibandingkan Bengkulu Utara, karena itu, pada dua tahun lalu ada investasi pananaman modal asing (PMA), PT Famiaterdio Nagara yang berani menanamkan modalnya dalam penambahan bahan galianitu.

PT Famiaterdio Nagara, sudah melakukan penambangan percobaan, namun karena tersangkut masalah hukum sehingga menghentikan kegiatan usahanya, dan investor itu meninggalkan Bengkulu.

Investor itu dituduh telah melakukan perambahan terhadap kawasan konservasi Cagar Alam Bukit Ngalam, karena satu hektare areal penambangannya masuk dalam kawasan dilindungi itu. Akibatnya, tiga petinggi perusahaan itu harus menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Kota Bengkulu, dan divonis bebas karena dinyatakan tidak terbukti.

Provinsi Bengkulu, kata dia, mengharapkan adanya investor yang bersedia menanamkan modalnya untuk menambang pasir besi dan batu besi itu, atau bahkan sampai mengolahnya menjadi barang jadi. Mengenai kepastian hukum bagi investor, menurut dia, dijamin dan sebenarnya jika tidak melakukan pelanggaran tidak akan ada masalah. ( ant )

KALENDER 2008

Desember 2009
S S R K J S M
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

ANDA PENGUNJUNG KE:

  • 354 hits

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Tulisan Teratas

  • Tidak ada

Arsip

Flickr Photos

iris

Neanche il suono del mare / Not even the sound of the sea

Red Leaf Studios

Lonely willow

Untitled

More Photos